Saturday, June 8, 2013

June 8th, 2013

June 8th, 2013

Karena tanggal 8 bulan kemarin, hasil setorannya kurang bertanggungjawab, kali ini saya mau banyak bercerita, atau as known as, mengeluh. Hobi kok tidak meningkat.

Meningkat ding, meningkat jadi lebih akut.

It finally stops ticking.

Hehe, jadi begini yang hendak saya ceritakan..

Selepas melepas status mahasiswa bulan Agustus tahun 2012 melalui serangkaian proses wisuda, wisuda ketiga, yang entah kenapa selalu membuat saya teringat bahwa dari ketiga momen wisuda yang saya miliki, tidak ada satu pun yang benar-benar membuat saya beneran, let's say, happy? Hmmm.. Kebanggaan sih jelas ada.

Empat tahun kuliah di Fakultas Farmasi, akhirnya punya gelar di belakang nama untuk pertama kalinya rasanya mewah banget. But when I recall the day I graduated, I didn't feel happy.

Next, setahun kuliah Profesi Apoteker, 6 bulan melanjutkan rutinitas 4 tahun sebelumnya, 2 bulan kerja praktek di Konimex, 1 bulan menyibukkan diri di lab dan di Apotek deket rumah punya Pak Satibi, 1 bulan kerja praktek di Apotek Puji Waras, 1 bulanan siap-siap ujian kompre. Akhirnya, dapet gelar tambahan "Apt" di belakang "S. Farm". But when I recall the day I took an oath, I didn't feel happy.

Dua tahun kemudian, di tempat yang sama dengan kedua wisuda sebelumnya, untuk merayakan penambahan gelar "M. Biotech" hasil kuliah dan perjuangan menyelesaikan tesis selama 2 tahun kurang, yang seharusnya saya merasakan hal yang seharusnya saya rasakan, ternyata saya tidak. Bahkan mata saya sembab. Yeah, I didn't feel happy. Atau memang begitu ya perasaan orang-orang yang diwisuda? Saya rasa bukan.

Dan lapar, karena hari itu bulan puasa :/

Jadi, secara resmi, saya punya 3 wisuda yang sesungguhnya bisa saya deskripsikan suasananya dengan jelas tapi saya enggan karena dari deskripsi saya, saya bisa dideskripsikan sebagai seseorang yang tidak ingin saya akui tapi saya -pada akhirnya- secara tidak sadar telah mengakuinya. Secara tidak resmi, saya tidak punya hari wisuda yang bisa dengan suka hati saya ingat-ingat, bahkan ingin saya lupakan.

Tapi ya sudahlah, kenyataan bahwa nama saya sudah bertambah panjang tidak bisa saya pungkiri, bahkan saya terima dengan suka cita karena pada akhirnya saya bisa mengais rezeki dan tidak merepotkan bapak ibu saya lagi, walau pun saya tidak tahu kapan saya bisa bayar utang saya yang jutaan rupiah itu. Bahahaha.. Oksimoron deh pokoknya. Tapi yaaaaaaaaaaaaaaaaaa..
Sudahlah.

Lagipula, saya menikmati apa yang saya lakukan sekarang, haha. Beneran, saya beneran menikmati, bukan karena saya mendapatkan ini di google:

berasa tenar .___.

Dan bukan juga kenyataan bahwa ada beberapa orang yang di tempat saya bekerja yang mulai bersinggungan dengan saya di media sosial yang harus saya jaga hatinya dengan tidak terlalu jujur menjadi diri sendiri yang sukanya sedikit-sedikit mengeluh dan mendramatisir keadaan.

Tapi saya benar menikmati apa yang saya lakukan. Kecuali kenyataan bahwa saya kalau bicara seperti dikejar anjing dan bahwa ada saat-saat tertentu, di mana orang-orang tersebut mendatangi saya dan memanggil saya dengan, "Ibu.." Saya sedih. Sumpah.



Mungkin untuk orang-orang yang mengenal saya sejak zaman saya TK, SD, SMP, SMA, S1, Profesi Apoteker, dan S2; saya tidak mungkin bisa menjalankan apa saya jalankan sekarang melihat kemampuan saya pada masa-masa itu yang sesungguhnya pun membuat saya sendiri takjub dan terkagum-kagum. Haha :)))

Ini yang kemudian saya sadari sebagai "The Power of Genetics". For those who know me outside and inside will comprehend what I mean. It does really exist. Walau pun jelas perlu waktu yang panjang dan proses berulang untuk jadi seorang profesional :D

Dan jelas, keberhasilan saya melampaui standar yang saya tetapkan sendiri tidak lepas dari satu nasehat yang masih berkesan sampai sekarang,
'kamu itu kalau menjelaskan di depan harus punya keinginan untuk didengar, tidak cuma sekedar membaca isi slide yang kamu tulis."
Entah Si Pemberi Nasehat ini ingat atau tidak, tapi mudah-mudahan bisa jadi amal jariyah untuk beliau dan semoga kesuksesan senantiasa mengikuti. Karena nasehat itu yang selalu saya ingat setiap saya akan berdiri di depan kelas, dan alhamdulillah selalu memudahkan saya. Aamin :D


Although, somehow, what I am now really detach me from where I wanna be.

Let's say. Sudah 7 tahun, saya lulus dari SMA N 9, 10 tahun dari SMP N 8, cuma sedikit sekali dari mereka yang masih kontak dengan saya, dan sebagian darinya jelas memprioritaskan saya sebagai yang kesekian, seperti saya juga memprioritaskan mereka jadi yang kesekian. Cukup adil.

Teman kuliah pun demikian, walau pun komunikasi masih intens dengan sebagian besar dari mereka. Dengan jarak yang seharusnya tidak terasa karena teknologi, kecerewetan mereka di grup angkatan terutama di whatsapp tidak menjadikan saya sebagai bagian dari mereka, entahlah, mereka sepertinya jauuuh sekali, secara harfiah dan kiasan. Tapi setidaknya saya masih bisa tau apa yang mereka lakukan di negeri seberang sana, siapa yang habis naik jabatan, siapa yang mau nikah, siapa yang punya anak lagi, siapa yang habis dimarahin ibunya karena nggak nikah-nikah, siapa yang mau pulang kampung. Tetap gaul gitu deh.

Teman S2 apalagi. Belum ada setahun pisah, mereka sudah tidak dapat diraih. Mereka seolah-olah saling dihubungkan oleh tali-tali yang tak terlihat -yang tidak ikut mengikat saya-, bahkan dengan orang-orang yang tidak begitu saya kenal tapi entah bagaimana mereka bisa saling menyapa akrab. Detach too far. Sad.

Di kantor sebenarnya juga demikian, sebagai anak baru, masih susah untuk membaur, dan sedikit hilang arah. Hehe. Keharusan untuk memulai kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, sedangkan "orang tua" saja saya tidak punya. Rasanya kok ya lebih mudah kalau saya masih attach dengan komunitas-komunitas di atas. Hmmmm.

Ditambah lagi tidak adanya bahu yang bi(a)sa saya pakai untuk bersandar. Lelah jelas ada. Sepi apa lagi. Tapi semuanya itu mengembangkan kemandirian saya. Ke mana-mana tidak lagi bergantung dengan orang lain. Makan di warung depan kampus sendirian (makanan favorit: oseng-oseng kikil + telor balado + es jeruk, total 8000an), belanja baju sendirian (yang pada akhirnya kelunturan), belanja alat tulis sendirian, belanja buku sendirian, kondangan sendirian, membelah Jogja malam-malam sendirian, tapi untungnya saya sama Ocha waktu saya berada di tengah-tengah hutan di gunung di Gunung Kidul :'))) nyetir sendiri, Broooo! Plus ngebut-ngebut gara-gara Runi (anaknya Ocha) minta ASI. Nyasar-nyasar sudah pasti, tapi yang penting selamat sampai tujuan. Viva La Verda!

Walau pun banyak juga acara yang saya pending gara-gara membayangkan merananya saya kalau saya sendirian. Hahaha :D Padahal apa yang lebih merana dari datang ke kondangan sendirian? *berdesis panjaaaaaaaaaaaaaang sekali*

Ada kok:

Ditanya ibu, "Kamu ke kondangan sendirian? Sa'ake men to, Le.." Yes, my mum calls all her children, "Le". Sayanya cuma bisa mesem. Dan melayanglah 50ribuan. Bener-bener melayang, karena saya enggan berlama-lama merasa kesepian di tengah keramaian. Halah. Njuk tidak maem gitu deh, njuk ujung-ujungnya maem di rumah, njuk diece Ibu lagi, "Habis kondangan kok maem?"

Aih, Buk -_____-u

Hehehe..

Selanjutnyaa..

Tahun 2013 ini tahun yang ajaib buat saya, bukan hanya kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan berkaitan dengan genetik yang tadi sudah saya ceritakan. Tapi karena level kesehatan saya yang mendadak ajaib sekali menjadi sangat ajaib.

Diawali dengan migren dan flu seperti biasa, kemudian meningkat menjadi demam berdarah, kemudian infeksi pasca wisdom teeth extraction yang berlangsung berbulan-bulan (Februari-Mei) dan sudah menjalani 4 tahap pengobatan yang kesemuanya obatnya tidak cuma satu tapi tidak ada satu pun yang bisa membuat sinus saya sehat seperti sediakala hingga pada akhirnya kepala saya dipapari radiasi rontgen yang ternyata diketahui bahwa citra hasil rontgen tidak bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis dan mau tidak mau saya harus memapari kepala saya lagi dengan radiasi CT Scan yang menghasilkan keputusan saya harus dioperasi. Obat terakhir yang saya konsumsi cuma bisa menghasilkan beberapa tetes ingus dari 15 cc ingus yang berdiam diri di sinus memberikan kemewahan bakteri untuk hidup berfoya-foya dengan tenang; co-amoxiclav, levofloxacin, dan clindamycin pun tidak berdaya.
Now I can officially declare that 5 menit di dalam CT Scan rasanya selamanya. Jadi, anak muda, mencintalah di dalam CT Scan.
Dan FYI, infeksi saya itu bukan karena operasi gigi, tapi karena dari sononya saya emang alergi dingin sejak kecil. Jaman TK dulu, saya kalau dingin pasti mimisan, tapi waktu tinggal di Jerman kok ya sehat-sehat aja selama melewati winter ya? Sehat selalu sampai beberapa waktu lalu. Infeksi.

BINGO!

Kata ibu sih untung saya operasi gigi, jadi saya bisa sekalian check isi kepala saya waktu di-CT Scan. Alhamdulillah, otak saya katanya nggak kenapa-kenapa walau pun pikiran aneh-aneh tidak pernah berhenti menghantui. Kalau tau gini mah, operasi giginya dari bertahun-tahun lalu, rela deh saya pokoknya, asal selama proses saya nggak cuma ngerasa ditemeni keluarga aja :|

*ya elah, Ver! -____-

Hahaha :D

Setengah bercanda, selebihnya serius kok. Don't worry-lah :)))

Yang jelas, saya ngerasa keren sudah pernah masuk CT Scan .___.

***


Saya mah tau ya kehadiran saya bukan yang selalu diharapkan orang-orang. Saya bukan tipe orang yang bisa mengubah warna kelabu menjadi warna terang. Bukan Mr. Bean. Bukan juga orang yang bisa selalu buat orang ketawa cuma dengan satu dua patah kata, tapi kenyataan bahwa akhir-akhir ini banyak orang yang tidak menanggapi gurauan saya, rasanya kok krik-krik banget. Maksud hati hendak mengajak bersenda gurau, I'm detached moooooooooooooooore far instead. Heran guwe sama orang-orang ini. Heran juga segedhe apa sih dosa guwe.
"Dosa elooo? Gedhe, Brooooooooooo!"
Ya gimana sih, saya sudah kebanyakan dosa, nambah dosa dikit bedanya juga nggak signifikan. Blah. Ya sudah lah ya, terima aja kepahitan dunia ini, Nak.

I've pushed my luck too much, I guess.

***

That’s all. Will have a looooooong trip to Gunung Kidul again tomorrow with those kids. And migraine is on my head right now T____T ..ya iyalah 3 bulanan kemaren enggak migren, secara 7 renteng obat ada yang isinya analgetik. Bah.

Sekianlah acara ngeluh-mengeluhnya. Kalau ada mahasiswa yang nyasar di sini, saya juga manusia, masih muda, dan pernah semuda kalian. Sama-samalah kita :D

No comments:

Post a Comment