Disclaimer:
This is to calm myself down.
Waktu hamil, aku sudah pede bisa lancar nyusuin Yui sampai jumawa menolak tawaran embak-embak di Mothercare untuk beli dot. Walaupun akhirnya beli, tapi belinya karena mikir mau dikasih gimana nanti hasil pumpingnya? Mau sok-sokan beli cup feeder karena takut pengaruh buruk dot tapi ga kesampaian.
Kesalahan pertama:
Kurang banyak membaca tentang persiapan melahirkan dan pasca melahirkan.
Kesalahan kedua:
Kepedean kalau proses menyusui itu mudah. Hell no. If only I could turn back the time.
Proses menyusui itu ada seninya, ada tekniknya, ada aturannya. Ga cuma langsung di-leb-in ke bayi terus si bayi mimik dengan santai seperti di pantai.
Dari yang sempat aku baca tentang proses menyusui, aku takut dengan hal-hal ini:
- Lecet
- Si bayi ga dapet kolostrum
Alhamdulillah, ketakutan itu ga terbukti. Yui anak yang pintar.
Tapi si ibu ini jadi super jumawa (kalau ga boleh disebut "yakin"), suplemen ASI ga diminum teratur, dan bilirubin Yui naik dan aku mewek dan aku tambah mewek karena aku ga bisa pakai pompa manual semakin mewek lagi karena pompa elektrik pun ga bisa membantuku memenuhi kebutuhan cairan Yui dan dengan berat hati akhirnya aku relakan Yui minum susu formula. Ouch.
Ide tentang memberi ASI eksklusif selama enam bulan tanpa dibarengi ilmu yang memadai bisa jadi berakhir menyedihkan ternyata. Karena ga nemu tombol reset. Orang di sekitar juga kurang banyak membantu tentang ini. Kesalahan ketiga: kurang mengedukasi orang sekitar kalau kita pingin ASI eksklusif dan gimana mengusahakannya -karena mengedukasi diri sendiri pun kurang.
Pakai pompa juga ga kalah berseni. Bermacam-macam artikel tentang pumping aku baca, tapi masih banyak yang aku ga paham.
In short:
Pumping diperlukan untuk meningkatkan produksi ASI melalui hukum demand and supply. Kalau permintaannya banyak, maka produksi juga akan banyak. Permintaan ini dimanipulasi melalui proses pumping. Konon katanya, di awal-awal bulan, pumping harus 2-3 jam sekali. Artinya, harus begadang. Aku tak sanggup. Aku suka begadang, tapi tak begini 🎶 Lelah mental, aku tahu begadang bukan hal yang baik. Apalagi syarat munculnya LDR (let down reflex) adalah happy. And sleep deprivation doesn't make me happy at all.
In super short:
I failed.
ASI-ku sedikit.
Si bayi butuh 80 ml tiap 3 jam, sedangkan aku cuma bisa kasih kubangan di pantat botol. Mentok 10 - 20 ml. Frustrasi. Bahkan ada saat akhirnya aku memutuskan untuk mengganti baju kancing depan yang biasa aku pakai untuk mempermudah proses menyusui dengan kaos. I feel like giving up.
Jadi ya udah deh, si anak jadi anak blasteran ASI dan susu sapi.
Aku kasih ASI sebisanya aku sampai dia ngamuk karena ASI ga keluar lagi, kemudian aku kasih susu formula.
Yang penting sehat dan ga lapar.
Yui ngamuk adalah hal yang paling menakutkan buatku saat itu (dan saat ini). Remuk rasanya lihat dia nangis kejer. Tambah remuk waktu lihat dia minum susu formula pakai dot. Duh. Maafkan ibu, Yui..
Manajemen nursing dan pumping sungguh membuatku bingung. Jadwal tidur Yui yang masih seenaknya. Tidurnya Yui yang gampang sekali terdistraksi. Aku yang ngantuk. Ga nemu jadwal yang Ok untuk nursing dan pumping deh pokoknya.
Hasil pumping yang seiprit membuatku sebal dengan alat pumping yang aku punya:
Spectra 9+
Alat mahal kok kerjanya ga becus. Well, kata orang, pompa ASI itu cocok-cocokan. Jadi, untuk beberapa saat, aku berhenti pumping karena sudah putus asa. Mau beli baru belum tentu cocok juga. Mahal pula. Sampai kemudian aku dapat wangsit untuk coba-coba sewa. Avent dan Malish, semua ga OK. So, I stick to Spectra 9+. Ga disangka, produksi ASI bertambah, jadi sekitar 80 - 100 ml, walaupun sering juga cuma dapet 50 ml, bahkan pernah beberapa kali cuma dapet 30 ml. Tapi aku tetap tidak senang haha karena si anak juga kan semakin besar, jadi kebutuhan ASI juga lebih banyak dibanding waktu dia masih bayi (( masih bayi )). ASIku tetap ga cukup. Tapi harus tetap disyukuri.
Dan aku mulai rajin pumping lagi. Sehari sekali. Haha. Hasil pumping ga lagi disimpan di freezer tapi di kulkas. Biar bisa langsung diangetin, ga perlu freeze-and-thaw. Lumayan. Alhamdulillah. Sampai akhirnya aku mendengar ada orang bilang, "Mungkin pompa ASI itu memang cocok-cocokan, tapi belajarlah memakai yang kamu punya." Dan akhirnya aku mulai bisa mensyukuri keberadaan Spectra 9+.
Anyway..
Si anak sudah berumur lebih dari 3 bulan. Katanya hormon prolaktin sudah mulai berkurang. Entah apa efeknya. Yang jelas aku bisa bahagia banget kalau aku dan Yui bisa melewatkan sehari tanpa susu formula. Dan itu masih bisa dihitung dengan jari.
Si anak sudah berumur lebih dari 3 bulan. Katanya hormon prolaktin sudah mulai berkurang. Entah apa efeknya. Yang jelas aku bisa bahagia banget kalau aku dan Yui bisa melewatkan sehari tanpa susu formula. Dan itu masih bisa dihitung dengan jari.
Less stressful?
Kinda. Aku masih sering sedih kalau lihat ibu-ibu pejuang ASI Instagram. Haha. Ya gimana sih, sudah berbagai macam booster ASI aku coba, tapi ga ada satu pun yang aku paham aturan pakainya. Haha. Ga ngefek pun. Bikin kantong makin tipis aja.
Maafkan ibu lagi, Yui.. 😂😂😂
Tapi tak mengapa, Anak, ayah dan ibu dulu juga bayi blasteran sufor kok 😊 Ayah sudah doktor, lulusan Jepang, punya banyak jurnal. Ibu sedang sekolah S3, di Jerman. Si Om dulu juga bayi sufor dan dia cumlaude di UGM. Tante pun.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebegitunya 😎
*mewek di pojokan
No comments:
Post a Comment