Sunday, December 30, 2018

Tentang gendongan

Months before she was born, ijk sudah sibuk milih gendongan.

Ini gara-gara jargon yang mematahkan istilah "bau tangan":
gendonglah anak sesering mungkin karena mereka tidak selamanya menjadi anak-anak
Apa gimana gitu, pokoknya intinya ntar kangen gendong anak waktu anak sudah besar.

So, I kemakan jargon itu. Haha. Dan tidak kusesali. Cuma sedikit lupa kalau 5 kg itu berat banget ya, Buuu.. Dan itu masih akan terus bertambah, inshaAllah. Tangan sudah semakin gampang kemeng, punggung sudah semakin entah gimana njelasinnya.

Aku ga akan mbahas M-shape. Sudah banyak dibahas. Aku cuma pingin cerita tentang perjalanan nyari gendongan yang ok buat Yui. Eh, buat aku deng. Secara aku yang gendong.

Waktu baca-baca tentang gendongan, aku jadi tau bahwa sesungguhnya ada banyak sekali macam gendongan. Gendongan jarik sepertinya sudah sangat kuno. Jaman sekarang ada yang namanya baby wrap, hipseat, soft-structured carrier (SSC), ringsling, geos (gendongan kaos -- ya ampun singkatannya), dll.

Sebagai orang yang pakai tas postman pasti migrain, ringsling dan geos are out of my list!

Dan sesungguhnya, aku pingin hip seat I-Angel tapi mahalnya ya ampun ku tak ma(mp)u.

Akhirnya pilihan jatuh ke baby wrap.
Tbh, aku agak gengsian haha jadi aku tak mau mencari gendongan biasa di toko bayi. Apalagi toko bayi di Jogja, beberapa ada yang ngenes banget kondisinya.

Jadilah, aku browsing sahaja cari gendongan indie. Dan aku menemukan Mikhadou di Instagram. Ya ampun, baby wrap-nya lucu banget!





Tapi, online shop jaman sekarang ini sistem jual belinya sungguh menyebalkan, kudu banget dikasih jadwal order dan harus cepet-cepetan kirim format order via wa di waktu yang sudah ditentukan. Siapa cepat dia dapat. Males banget euy. Tapi ya gimana sih aku ini kalau sudah suka sama barang kayaknya harus kebeli, takut nyesel padahal uang juga ga berlebih. So, yeah.. I was in. Untung-untungan. Dan aku dapat 😌

Si gendongan datang sebelum Yui lahir, jadi untuk beberapa saat cuma jadi pajangan di lemari. Dan setelah Yui lahir pun, masih jadi pajangan karena ya ampun bayi sekecil itu masak diubet-ubet sedemikian rupa sih?? Katanya sih ga papa, tapi ku tak tegaaaaa. Dan lagi, baby wrap itu ribet yeeee. Waktu aku mulai berani gendong Yui, Yui-nya keburu ngamuk 😂😂😂

Jadi pajangan beneran deh sampai berbulan-bulan; berat badan Yui semakin naik dan aku semakin kepayahan kalau gendong Yui. Rasanya pingin banget punya gendongan yang langsung leb ga perlu ubet-ubet biar simpel gitu bisa langsung taruh Yui ke kasur setelah Yui tidur di gendonganku.

Dan aku menemukan..
Hipseat.
Awalnya aku pingin yang kayak begini:



Hipseat AIEBAO. Simpel banget kelihatannya. Ya kan?

Tapi ragu mau beli online.
Terus si Adek bilang kalau ada yang kek begituan di Vinolia tapi beda merk, dan waktu ke Vinolia akhirnya ga kebeli karena barang tinggal satu dan kemasannya udah ga ok 😂

Jadi ku browsing lagi dan tetap tidak berani nglirik I-Angel takut tergoda. Dan kemudian aku menemukan Mooimom hipseat yang harganya lebih murah tapi tetep aja lumayan tapi gimana aku harus punya (berasa orang kaya yang bisa beli macem-macem....




..eh tapi kebeli dong yang warna Tiffany Blue).

Yui waktu itu 3 bulan. Pas dicoba, seat-nya sepertinya masih terlalu lebar. Jadilah pajangan kedua.



Waktu Yui 5 bulan, aku coba lagi hipseat Mooimom-nya, udah bisa tapi ada tapinyaaaaa..

Lemak di perut ketekan banget ahahahahaha sedih brayyyyy..

Kalau ada seseorang yang kesasar di sini karena pingin gendongan Mooimom, coba cek ini dan bantu saya ya. He. He.

Suatu hari, Mas Suami ngajak mudik ke Mataram (Yui umur 4 bulan). Kebutuhan gendongan semakin "mendesak". Karena pertama kali Yui ke Mataram waktu umur belum ada 3 bulan, dan mbak pramugarinya bilang kalau Yui harus digendong waktu take off dan landing. Waktu itu, yang aku punya baru Mikhadou dan memang ribet. Jadi aku tak mau mengulang keribetan yang sama.

Dan aku teringat kalau ada yang ngado gendongan Ergobaby (gendongan tipe SSC). Beberapa hari sebelum keberangkatan, aku dan Yui belajar pakai Ergobaby itu. Eh kok enak. Lho lho lho.. jadi selama ini apa yang telah aku lakukan padahal gendongan itu ada di lemari. Jadilah kita ke Mataram dengan gendongan Ergobaby.

Waktu itu Yui masih awal-awal fase oral. Diemutlah gendongan itu dan secara gendongan itu fresh from the box, bau kimia kain masih kentara banget. Aku harus memutar otak di waktu yang semakin mepet, dan jadilah ini:


Yui, gendongan Ergobaby, dan Eross
ketika ibunya sedang disuruh ayahnya ngantre Roti-O

Itu yang putih-putih di bagian strap gendongan adalah celananya Yui btw :')


Perjalanan ke Mataram was so good. Tapi tidak dengan perjalanan mencari gendongan. Emak ini tak terima karena gendongan yang dipakainya adalah gendongan KW. Atas nama keselamatan anak dan kekayaan intelektual, pencarian terus berlanjut.

Kali ini pencarian lebih mendalam dilakukan untuk mencari SSC yang ok. Oh, my..

Padahal beberapa waktu lalu Mikhadou launching SSC which was very pretty. Tapi waktu itu belum butuh. Too bad belum restock lagi.

Dan karena untuk bikin SSC itu Mikhadou berkolaborasi sama Zakkel; aku cari info tentang Zakkel juga yang ternyata sama-sama cantiknya kayak Mikhadou 😭😭😭

Tapi kemudian aku tahu kalau SSC Mikhadou dan Zakkel ada syarat umur. Tipe Standar (baru bisa dipakai setelah 6 bulan) dan Toddler (dipakai kalau kaki udah mulai nggantung pas pakai yang Standar). Jadi artinya aku harus beli dua kali. Ouch. Dan aku urungkan niat untuk beli Zakkel maupun Mikhadou.

Cari-cari lagi. Bermacam-macam merk SSC lokal aku pelajari, dari Nana, Bobita, Andrea, CuddleMe; ga ada yang sreg di hati (hey, it rhymes!). Yang internasional pun pada akhirnya aku pelajari juga, dan ternyata SSC itu banyak banget macamnya 😂😂😂 oh my god!

Dan akhirnya aku jatuh cinta sama Boba X 😭 ada online shop yang pre order Boba X, harganya mirip I-Angel, dua jutaan 😭😭😭 sedang rupiah, aku sedang tak ada. Eh ada deng tapi mepet. Maju mundur banget mau beli Boba X.

Mau ikut po, rupiah mepet. Mau beli langsung ke website-nya pakai euro, tapi ga mudeng sama bea cukai. Duh.

Kemudian..
CuddleMe mau ngeluarin gendongan yang mirip Boba X ini, tapi mungkin pas akhir tahun atau awal tahun baru. Kayaknya bagus. Tapi logo CuddleMe yang gengges itu dipasang gede-gede di bagian muka. Aaaaaaah.

Tapi..
Selalu ada tapi di setiap kondisi :')

Aku cari di website Boba Eropa. Dan aku beli Boba X Yucca pakai tabungan Euro hasil kembalian uang bayar listrik. Dan aku beli bagasi dari mahasiswa Indonesia yang mau mudik ke Indonesia.




Deg-degan nunggu gendongan datang. Eh si Boba X keluar motif baru yang lebih bagus 😭 tapi ya sudahlah apa mau dikata. Euro sudah jadi gendongan.

Dan minggu lalu gendongannya sampai 😭😭😭



Yucca 160€ ku.


Bagus banget :')
Enak dipakainya.
Barang mahal memang beda yaa :')

Apa yang terjadi dengan gendongan yang lain?
Mooimom: masih nunggu ada yang mau beli.
Ergobaby: nangkring di pojokan belum dicuci
Mikhadou: masih dipakaaaaai. Ibu suka sekali gendongan Mikhadou ini. Yui juga sudah mau digendong pakai ini <3


Ayo, Nak..
Sini ibu gendong, sampai kamu tak kecil lagi :')

Tuesday, December 11, 2018

I ain't a supermom

When my life is changing into a routine of nursing breastfeeding soothing playing peekaboo changing diaper and repeat in a never ending loop, I feel super tired.

I am not trying to be a supermom, a mom who never complaints, or a mom who always does everything patiently with a smile even though her jobs is not perfectly done; and tell everybody that I am fine.

If I am tired, I will say I am tired, I will show that I am tired (and seek some help if it's needed).
Sorry, Kid.
If you think I am your supermom. I am not. I don't even want to try to be a supermom for you. Because I can't. I am only human, an ordinary human. If someday, I have to cry because I feel exhausted, because of you or because of anything else, I will cry in front of you.
So, you will know, that I can cry, too.
So, you know, that I can be sad, too.
So, you know, that you can make me tired and exhausted and angry..
And know that, how low I am, I still love you. So much. And never once, I give up on you.

Because being tired is normal. Because crying is normal.

And just like other mothers, I need me time.

However, going to a mall, to a salon, or to a hang out with my friends, is not an option, karena aku ga tega ninggalin dia lama-lama.

Kalau mau ke mall ya dia harus ikut, dan biasanya dia memang ikut. Kalau ke salon, udah sering banget diajak eyangnya, tapi aku tak tega karena bau kimianya nyegrak banget. Hang out? Hahaha..

Jadi, me-time-ku paling mentok ya GO-MASSAGE :)

Sama:

Bersih-bersih kamar dan cuci piring, yang mana kedua hal ini adalah hal yang sangat jarang aku lakukan sebelum ada Yui.

Karena menjauh sebentar itu tidak mengapa dan menjaga kewarasan itu sangat perlu.


Be Happy.

Monday, December 3, 2018

Pumping and stuffs

The good thing is...

Walaupun ASI-ku ga berlimpah ruah, aku masih bisa pumping, meskipun hanya sekali sehari (kalau niat). Oleh karenanya, aku punya alat tempur juga haha..

Breast pump
Yang aku punya adalah Spectra 9+. Aslinya double pump. Tapi emak-emak ini ngerasa serem kalau harus pumping dua-duanya. Haha. Ga kebayang juga caranya gimana.



I used to hate my Spectra. ASI dikit membuatku membencinya, semakin benci karena pegel banget ye pumping ituuuu. Badan kudu bungkuk biar ASI-nya ga mbleber-mbleber. Masuk angin pula :(

But, wth, life must go on, she needs milk.

Pada akhirnya aku bisa menaklukan Spectra, setelah mengakui dengan lapang dada kalau ASI ijk emang dikit.

How I used Spectra:
Jadi, si Spectra ini punya dua mode: massage mode (lima level) dan expression mode (sepuluh level). Awalnya aku cuma pakai expression mode level 3 selama masing-masing 15 menit, diselingi massage mode dikit-dikit. Tapi..
GA GITU CARANYA, BUIBUUUUUU..
Gini harusnya: pancing LDR pakai massage mode, kalau LDR sudah muncul baru pindah ke expression mode. Aku pakai massage mode level 5 & expression mode level 6.

Breastmilk storage bag
Sebelum pakai Spectra, sebenarnya aku sudah punya pompa manual Avent. Tapi aku ga bisa pakainya. Haha.. Waktu beli pompa Avent, aku sekalian beli kantung asinya. Jadi awal-awal, aku pakai kantung ASI Avent untuk nyimpen ASI. Terus coba-coba yang lain: Natur, Gabag (3 kantung), sama Momo. Natur sudah habis, Gabag 120 ml juga sudah habis 2 kantung, sekarang baru pakai yang Momo. Masih ada kurang lebih setengah Gabag 160 ml.

Ga ada yang favorit sih. Tapi kalau yang Momo habis, aku mau beli yang Gabag lagi. 

Soalnya..
Gabag punya extension yang bisa nyambungin pompa langsung ke kantung ASI. Jadi ga perlu ditampung dulu ke botol baru dituang ke kantung. Emak anti ribet.



Colibri - Gabag
Sedikitnya jumlah ASI bikin aku berpikir berapa jumlah ASI yang ketinggalan di botol akibat aktivitas pumping kemudian tuang ke kantung ASI. Dan membuatku bertanya-tanya, masak sih ga ada yang bisa langsung dipompa ke dalam kantung ASI?

Eh, ternyata adaaaaaa..

Namanya Colibri dari Gabag, dibuat sebagai tambahan untuk pompa ASI Gabag. Membuatku berpikir apa aku perlu beli pompa ASI Gabag yaaa. Haha.. Eh tapi ternyata Colibri ini fit perfectly ke corong Spectra. I am happy, Kid! I am happy!

Breastpad
Walaupun ASI-nya dikit, tapi tetep bisa bikin bra basah. Jadi aku butuh breastpad. Awalnya beli ママパッド terus ada yang ngado Pigeon. Enak yang Pigeon sih, tapi mihil. Jadi aku pakai MamaPad lagi.

Anywayy..
Banyak bet sampah plastik di dunia perbayian ini yhaaaaa.. Plastik pospak, plastik pembalut nifas, plastik pembalut kalau dapet, plastik pantyliner, plus plastik MamaPad. Bzzzz..

Jadilah aku cari-cari washable breastpad dan belilah aku breastpad merk Avent. Tigapuluh ribuan dapet tiga pasang. Haha..

Tapiiiiiii..
Zonk!

Ada serat kain yang nempel di puting!!

Nyebelin ga sih?
Baca-baca sekilas di forum emak-emak, kayaknya ini breastpad Avent KW. Meh.

Jadi aku mulai cari breastpad lain. Dr Brown, Mothercare, atau Mooimom. Tebak yang mana yang aku pilih!

 


Yup!
Mothercare. Ekonomis.

Ternyata,
Berserat juga .____.

So, I stick to ママパッド

Please bear with us, Earth!

So, that's all I guess!

Tuesday, November 6, 2018

Is she an exclusively-breast-feed baby?

No, she is not.
Disclaimer:
This is to calm myself down.

Waktu hamil, aku sudah pede bisa lancar nyusuin Yui sampai jumawa menolak tawaran embak-embak di Mothercare untuk beli dot. Walaupun akhirnya beli, tapi belinya karena mikir mau dikasih gimana nanti hasil pumpingnya? Mau sok-sokan beli cup feeder karena takut pengaruh buruk dot tapi ga kesampaian.

Kesalahan pertama:
Kurang banyak membaca tentang persiapan melahirkan dan pasca melahirkan.

Kesalahan kedua:
Kepedean kalau proses menyusui itu mudah. Hell no. If only I could turn back the time.

Proses menyusui itu ada seninya, ada tekniknya, ada aturannya. Ga cuma langsung di-leb-in ke bayi terus si bayi mimik dengan santai seperti di pantai.


Dari yang sempat aku baca tentang proses menyusui, aku takut dengan hal-hal ini:
  1. Lecet
  2. Si bayi ga dapet kolostrum
Alhamdulillah, ketakutan itu ga terbukti. Yui anak yang pintar. 

Tapi si ibu ini jadi super jumawa (kalau ga boleh disebut "yakin"), suplemen ASI ga diminum teratur, dan bilirubin Yui naik dan aku mewek dan aku tambah mewek karena aku ga bisa pakai pompa manual semakin mewek lagi karena pompa elektrik pun ga bisa membantuku memenuhi kebutuhan cairan Yui dan dengan berat hati akhirnya aku relakan Yui minum susu formula. Ouch. 

Ide tentang memberi ASI eksklusif selama enam bulan tanpa dibarengi ilmu yang memadai bisa jadi berakhir menyedihkan ternyata. Karena ga nemu tombol reset. Orang di sekitar juga kurang banyak membantu tentang ini. Kesalahan ketiga: kurang mengedukasi orang sekitar kalau kita pingin ASI eksklusif dan gimana mengusahakannya -karena mengedukasi diri sendiri pun kurang.

Pakai pompa juga ga kalah berseni. Bermacam-macam artikel tentang pumping aku baca, tapi masih banyak yang aku ga paham.

In short:
Pumping diperlukan untuk meningkatkan produksi ASI melalui hukum demand and supply. Kalau permintaannya banyak, maka produksi juga akan banyak. Permintaan ini dimanipulasi melalui proses pumping. Konon katanya, di awal-awal bulan, pumping harus 2-3 jam sekali. Artinya, harus begadang. Aku tak sanggup. Aku suka begadang, tapi tak begini 🎶 Lelah mental, aku tahu begadang bukan hal yang baik. Apalagi syarat munculnya LDR (let down reflex) adalah happy. And sleep deprivation doesn't make me happy at all. 

In super short:
I failed.

ASI-ku sedikit.

Si bayi butuh 80 ml tiap 3 jam, sedangkan aku cuma bisa kasih kubangan di pantat botol. Mentok 10 - 20 ml. Frustrasi. Bahkan ada saat akhirnya aku memutuskan untuk mengganti baju kancing depan yang biasa aku pakai untuk mempermudah proses menyusui dengan kaos. I feel like giving up.

Jadi ya udah deh, si anak jadi anak blasteran ASI dan susu sapi.

Aku kasih ASI sebisanya aku sampai dia ngamuk karena ASI ga keluar lagi, kemudian aku kasih susu formula.

Yang penting sehat dan ga lapar.


Yui ngamuk adalah hal yang paling menakutkan buatku saat itu (dan saat ini). Remuk rasanya lihat dia nangis kejer. Tambah remuk waktu lihat dia minum susu formula pakai dot. Duh. Maafkan ibu, Yui..

Manajemen nursing dan pumping sungguh membuatku bingung. Jadwal tidur Yui yang masih seenaknya. Tidurnya Yui yang gampang sekali terdistraksi. Aku yang ngantuk. Ga nemu jadwal yang Ok untuk nursing dan pumping deh pokoknya.

Hasil pumping yang seiprit membuatku sebal dengan alat pumping yang aku punya:

Spectra 9+

Alat mahal kok kerjanya ga becus. Well, kata orang, pompa ASI itu cocok-cocokan. Jadi, untuk beberapa saat, aku berhenti pumping karena sudah putus asa. Mau beli baru belum tentu cocok juga. Mahal pula. Sampai kemudian aku dapat wangsit untuk coba-coba sewa. Avent dan Malish, semua ga OK. So, I stick to Spectra 9+. Ga disangka, produksi ASI bertambah, jadi sekitar 80 - 100 ml, walaupun sering juga cuma dapet 50 ml, bahkan pernah beberapa kali cuma dapet 30 ml. Tapi aku tetap tidak senang haha karena si anak juga kan semakin besar, jadi kebutuhan ASI juga lebih banyak dibanding waktu dia masih bayi (( masih bayi )). ASIku tetap ga cukup. Tapi harus tetap disyukuri.

Dan aku mulai rajin pumping lagi. Sehari sekali. Haha. Hasil pumping ga lagi disimpan di freezer tapi di kulkas. Biar bisa langsung diangetin, ga perlu freeze-and-thaw. Lumayan. Alhamdulillah. Sampai akhirnya aku mendengar ada orang bilang, "Mungkin pompa ASI itu memang cocok-cocokan, tapi belajarlah memakai yang kamu punya." Dan akhirnya aku mulai bisa mensyukuri keberadaan Spectra 9+.

Anyway..
Si anak sudah berumur lebih dari 3 bulan. Katanya hormon prolaktin sudah mulai berkurang. Entah apa efeknya. Yang jelas aku bisa bahagia banget kalau aku dan Yui bisa melewatkan sehari tanpa susu formula. Dan itu masih bisa dihitung dengan jari.

Less stressful?
Kinda. Aku masih sering sedih kalau lihat ibu-ibu pejuang ASI Instagram. Haha. Ya gimana sih, sudah berbagai macam booster ASI aku coba, tapi ga ada satu pun yang aku paham aturan pakainya. Haha. Ga ngefek pun. Bikin kantong makin tipis aja. 

Maafkan ibu lagi, Yui.. 😂😂😂

Tapi tak mengapa, Anak, ayah dan ibu dulu juga bayi blasteran sufor kok 😊 Ayah sudah doktor, lulusan Jepang, punya banyak jurnal. Ibu sedang sekolah S3, di Jerman. Si Om dulu juga bayi sufor dan dia cumlaude di UGM. Tante pun. 

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebegitunya 😎






*mewek di pojokan 

Sunday, November 4, 2018

Perjalanan Mengantar Yui ke Dunia

I
Musim dingin kala itu..

II
Liburan singkat di Indonesia akhirnya usai. Aku harus kembali ke Jerman. Berdua :)

III
Di Jerman, aku harus menghadapi kenyataan lagi bahwa aku tidak suka jauh dari "rumah". Banget.

IV
My PhD life went as usual in spite of the tears.
I moved to a new flat near my lab. An empty flat. No bed. No cupboard. No table. No chair. No lamp. OMG! I had to manage everything before I moved so I could sleep well during the winter. Beside, I needed to buy cartons, the big ones. I also needed time to check the IKEA website, to think about when and how the stuffs would be delivered, and how to assemble all the stuffs. I bought little shelfs, a custom table, a chair and a cheap plastic wardrobe I cannot find the link, and these:
iye, emang sengaja kasih lihat harganya. Hahaha..

It costed much!

Dan itu semua harus dirakit sendiri.



..and it was in the middle of the snow


V
There was also a time when someone knocked at my door and wanted me to leave my flat immediately due to a finding of a bomb in the store in front of my flat. Bomb. Bangkai bom dari jaman perang. Entah bangkai entah masih aktif. Yang jelas aku harus segera meninggalkan flat. Kemudian aku jalan balik ke Bahnhof karena bus dan kendaraan lain ga boleh lewat.

Hari itu aku numpang tidur di rumah teman.

VI
The day I told my supervisor: It was in the middle of a conference in Halle.

The Controlled Release Society Germany Local Chapter
Martin-Luther-Universität Halle-Wittenberg

Unknown building. Ada Edeka-nya. Di depan hotel, dalam perjalanan menuju bar.


VII
Flew back to Indonesia!
..waiting for the time to leave home to go home


FRA to RUH
sepi, duduk sendiri bisa rebahan

RUH to CGK
bayar lebih demi bisa selonjoran karena takut kaki bengkak


RUH to CGK


VIII
Home!

..padahal ik ga suka duren

IX
Awal Juli 2018
ditinggal Mas Suami konferensi ke Jepang dan dengan semena-menanya dipameri foto Sushi.

I missed you so much, Dear Sushi in Japan..

Dan di sebuah percakapan via telefon:

"Mas, kayaknya aku tau deh rasanya kalau besok mulai kontraksi"

13 Juli 2018
Diajak belanja Apip karena aku kok persiapannya nggak banget. Haha. Masih belum beli ini-itu karena memang aku mau biasa-biasa aja gara-gara lihat postingan di Instagram yang membandingkan persiapan ibu waktu persiapan kelahiran anak pertama vs anak selanjutnya. Yang wajar saja.

Di hari itu juga, aku tergerak untuk membereskan kamar.

Saturday, 14 Juli 2018
I found a spot of blood when I peed. But I stayed cool. I am always cool anyway. I texted my mother while she was in her trip back to Indonesia from Japan. I got her replied after she had landed in Cengkareng and wanted me to tell my obstetrician. I did not do it immediately because I was really chilled that day. The due date was two weeks away. But since I kept bleeding and I felt something strange in my stomach, then I told my obstetrician. He wanted me to go to the emergency unit. So I packed my bag and went.

Bukaan lima.

Dan aku masih chilled banget. Pede bakal disuruh pulang karena HPL masih lama.

Mas Suami masih sibuk urus kamar saat aku sibuk main HP di ruang observasi. Ibu langsung ke RS setelah mampir rumah sebentar. Disuruh ngaji sama Ibu. Dan aku mengantuk kemudian aku tidur di ruang observasi. Sebelumnya, aku bilang ke Mbak Perawat, "Sus, kalau ada yang mau lahiran, kasih tau saya ya. Saya tak pindah ke kamar." Haha, takut.

Akhirnya makin geje di ruang observasi jadi aku minta pindah kamar aja. Mbak Perawat bilang, "kalau kontraksi semakin sering atau ngerasa ada air yang merembes, segera lapor ya.."

dan aku masih santai menanggapi itu dan berjalan dengan santai ke kamar.

Di kamar juga geje. Haha.

Beberapa sanak saudara ada yang singgah, termasuk mertua yang saat itu baru ada di Jogja. Sampai malem juga tetep geje, kontraksi juga gitu-gitu aje. Bapak sudah mulai ngantuk dan diminta pulang sama ibu. Sesaat setelah bapak pulang, aku beneran ngerasa seperti ada balon pecah. Air keluar. Dan aku dipindah ke ruang persalinan.

Bukaan delapan.

Udah mulai heboh kontraksinya dan nggak boleh ngeden. To be honest, I had zero idea about giving birth. Ga tau kalau ngeden itu ada tekniknya. Tapi bodo amat.

Dokter datang. Bukaan lengkap (aku sebut bukaan lengkap karena aku ga tau yang disebut bukaan lengkap itu bukaan berapa, haha.. segitu enggaktaunya aku tentang proses persalinan). However,...


NGEDEN ITU GITU AMAT YA, BUIBUUUUUUUU.. 


Sabtu, 14 Juli 2018 23:30

"Welcome to the world, Nak.."

[no pic of her will be published]

Sunday, April 29, 2018

The Bray that I love

I call my husband "Mas", simply because he is older.
However, sometimes, I call him "Bang".. and he is OK with that as his mother calls him that way.

I love teasing my husband and when I am in the mood, I will call him "Bray", and he kinds of hate it.

This was his reaction:

(after several conversation)
V : "iya, kan, Bray?"
R : "aku tu bukan 'Bray', aku 'Mas'............."

🤓

Wednesday, January 31, 2018

Winter in Marburg

He came at the beginning of November to attend a conference in Luxembourg and stayed in Marburg until Christmas. He is the one who has to eat, and I am the one who is ok if I don't eat. So, I used to skip lunch, but when he was around, I had to have lunch. Of course, there are only limited amounts of the restaurant we can visit in Marburg. The nearest one is the Kebab. We also used to eat in McDonald's and order Fillet-o-fish and veggie burger, Schwalmer Brotladen just to eat one or two pieces of bread, Paprica to eat pizza. But, Kebab is the most-visit restaurant. We ate there almost every day, then I reached a state in which I wanted to puke every time I think about Kebab and refused to eat Kebab. My stomach was uncomfortable. I texted my friend who is a doctor and asked him about my stomach. He said I might get gastritis and wanted me to buy medicine like "Promag." I wasn't really sure about this because I regularly ate since my husband came. So, I just enjoyed my uncomfortable stomach.

It was winter, my second winter in Germany, and I pee a lot. A lot. It was so cold and I can't help to pee.

And it was winter. For God sake, why European do not take a bath???
They smell real bad.
Several of them might realize that they smelled bad and decided to swim in a pool of perfume!

And those Arabic people, ahhhhh.. Do they think they were impressive with their perfume?

And all those smell made me nausea and dizzy and mad; yes, I have a sensitive nose. I hate perfume. I hate body odor, too.


My stomach was literally in danger!
I even felt the sense of my period would come, but it didn't happen. Screw you, my irregular period!
Oh, I got my period anyway, but only for one day. It made me worry. I had asked a friend about an English-speaking doctor to check my irregular period, but I had no time to visit the doctor.

Then..
I sneezed a lot. And my stomach cramps every time I sneezed.

What a pain.

But I was still alive well.
I still worked with that heavy machine. I still walked a thousand miles. I even had a flight to go to Indonesia.

So, that was a glimpse of my life during my second winter in Marburg :)


Then I flew back to Indonesia to find the answer.

Monday, January 1, 2018

Happy (finally)

Several days ago, I really want to write about how desperate I am towards life. How I am very disappointed. Just to make sure that I am going to be fine. 

But, no, I am beyond happy now :)

and confused.
Still, I am happy.