Tuesday, November 6, 2018

Is she an exclusively-breast-feed baby?

No, she is not.
Disclaimer:
This is to calm myself down.

Waktu hamil, aku sudah pede bisa lancar nyusuin Yui sampai jumawa menolak tawaran embak-embak di Mothercare untuk beli dot. Walaupun akhirnya beli, tapi belinya karena mikir mau dikasih gimana nanti hasil pumpingnya? Mau sok-sokan beli cup feeder karena takut pengaruh buruk dot tapi ga kesampaian.

Kesalahan pertama:
Kurang banyak membaca tentang persiapan melahirkan dan pasca melahirkan.

Kesalahan kedua:
Kepedean kalau proses menyusui itu mudah. Hell no. If only I could turn back the time.

Proses menyusui itu ada seninya, ada tekniknya, ada aturannya. Ga cuma langsung di-leb-in ke bayi terus si bayi mimik dengan santai seperti di pantai.


Dari yang sempat aku baca tentang proses menyusui, aku takut dengan hal-hal ini:
  1. Lecet
  2. Si bayi ga dapet kolostrum
Alhamdulillah, ketakutan itu ga terbukti. Yui anak yang pintar. 

Tapi si ibu ini jadi super jumawa (kalau ga boleh disebut "yakin"), suplemen ASI ga diminum teratur, dan bilirubin Yui naik dan aku mewek dan aku tambah mewek karena aku ga bisa pakai pompa manual semakin mewek lagi karena pompa elektrik pun ga bisa membantuku memenuhi kebutuhan cairan Yui dan dengan berat hati akhirnya aku relakan Yui minum susu formula. Ouch. 

Ide tentang memberi ASI eksklusif selama enam bulan tanpa dibarengi ilmu yang memadai bisa jadi berakhir menyedihkan ternyata. Karena ga nemu tombol reset. Orang di sekitar juga kurang banyak membantu tentang ini. Kesalahan ketiga: kurang mengedukasi orang sekitar kalau kita pingin ASI eksklusif dan gimana mengusahakannya -karena mengedukasi diri sendiri pun kurang.

Pakai pompa juga ga kalah berseni. Bermacam-macam artikel tentang pumping aku baca, tapi masih banyak yang aku ga paham.

In short:
Pumping diperlukan untuk meningkatkan produksi ASI melalui hukum demand and supply. Kalau permintaannya banyak, maka produksi juga akan banyak. Permintaan ini dimanipulasi melalui proses pumping. Konon katanya, di awal-awal bulan, pumping harus 2-3 jam sekali. Artinya, harus begadang. Aku tak sanggup. Aku suka begadang, tapi tak begini ๐ŸŽถ Lelah mental, aku tahu begadang bukan hal yang baik. Apalagi syarat munculnya LDR (let down reflex) adalah happy. And sleep deprivation doesn't make me happy at all. 

In super short:
I failed.

ASI-ku sedikit.

Si bayi butuh 80 ml tiap 3 jam, sedangkan aku cuma bisa kasih kubangan di pantat botol. Mentok 10 - 20 ml. Frustrasi. Bahkan ada saat akhirnya aku memutuskan untuk mengganti baju kancing depan yang biasa aku pakai untuk mempermudah proses menyusui dengan kaos. I feel like giving up.

Jadi ya udah deh, si anak jadi anak blasteran ASI dan susu sapi.

Aku kasih ASI sebisanya aku sampai dia ngamuk karena ASI ga keluar lagi, kemudian aku kasih susu formula.

Yang penting sehat dan ga lapar.


Yui ngamuk adalah hal yang paling menakutkan buatku saat itu (dan saat ini). Remuk rasanya lihat dia nangis kejer. Tambah remuk waktu lihat dia minum susu formula pakai dot. Duh. Maafkan ibu, Yui..

Manajemen nursing dan pumping sungguh membuatku bingung. Jadwal tidur Yui yang masih seenaknya. Tidurnya Yui yang gampang sekali terdistraksi. Aku yang ngantuk. Ga nemu jadwal yang Ok untuk nursing dan pumping deh pokoknya.

Hasil pumping yang seiprit membuatku sebal dengan alat pumping yang aku punya:

Spectra 9+

Alat mahal kok kerjanya ga becus. Well, kata orang, pompa ASI itu cocok-cocokan. Jadi, untuk beberapa saat, aku berhenti pumping karena sudah putus asa. Mau beli baru belum tentu cocok juga. Mahal pula. Sampai kemudian aku dapat wangsit untuk coba-coba sewa. Avent dan Malish, semua ga OK. So, I stick to Spectra 9+. Ga disangka, produksi ASI bertambah, jadi sekitar 80 - 100 ml, walaupun sering juga cuma dapet 50 ml, bahkan pernah beberapa kali cuma dapet 30 ml. Tapi aku tetap tidak senang haha karena si anak juga kan semakin besar, jadi kebutuhan ASI juga lebih banyak dibanding waktu dia masih bayi (( masih bayi )). ASIku tetap ga cukup. Tapi harus tetap disyukuri.

Dan aku mulai rajin pumping lagi. Sehari sekali. Haha. Hasil pumping ga lagi disimpan di freezer tapi di kulkas. Biar bisa langsung diangetin, ga perlu freeze-and-thaw. Lumayan. Alhamdulillah. Sampai akhirnya aku mendengar ada orang bilang, "Mungkin pompa ASI itu memang cocok-cocokan, tapi belajarlah memakai yang kamu punya." Dan akhirnya aku mulai bisa mensyukuri keberadaan Spectra 9+.

Anyway..
Si anak sudah berumur lebih dari 3 bulan. Katanya hormon prolaktin sudah mulai berkurang. Entah apa efeknya. Yang jelas aku bisa bahagia banget kalau aku dan Yui bisa melewatkan sehari tanpa susu formula. Dan itu masih bisa dihitung dengan jari.

Less stressful?
Kinda. Aku masih sering sedih kalau lihat ibu-ibu pejuang ASI Instagram. Haha. Ya gimana sih, sudah berbagai macam booster ASI aku coba, tapi ga ada satu pun yang aku paham aturan pakainya. Haha. Ga ngefek pun. Bikin kantong makin tipis aja. 

Maafkan ibu lagi, Yui.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Tapi tak mengapa, Anak, ayah dan ibu dulu juga bayi blasteran sufor kok ๐Ÿ˜Š Ayah sudah doktor, lulusan Jepang, punya banyak jurnal. Ibu sedang sekolah S3, di Jerman. Si Om dulu juga bayi sufor dan dia cumlaude di UGM. Tante pun. 

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebegitunya ๐Ÿ˜Ž






*mewek di pojokan 

Sunday, November 4, 2018

Perjalanan Mengantar Yui ke Dunia

I
Musim dingin kala itu..

II
Liburan singkat di Indonesia akhirnya usai. Aku harus kembali ke Jerman. Berdua :)

III
Di Jerman, aku harus menghadapi kenyataan lagi bahwa aku tidak suka jauh dari "rumah". Banget.

IV
My PhD life went as usual in spite of the tears.
I moved to a new flat near my lab. An empty flat. No bed. No cupboard. No table. No chair. No lamp. OMG! I had to manage everything before I moved so I could sleep well during the winter. Beside, I needed to buy cartons, the big ones. I also needed time to check the IKEA website, to think about when and how the stuffs would be delivered, and how to assemble all the stuffs. I bought little shelfs, a custom table, a chair and a cheap plastic wardrobe I cannot find the link, and these:
iye, emang sengaja kasih lihat harganya. Hahaha..

It costed much!

Dan itu semua harus dirakit sendiri.



..and it was in the middle of the snow


V
There was also a time when someone knocked at my door and wanted me to leave my flat immediately due to a finding of a bomb in the store in front of my flat. Bomb. Bangkai bom dari jaman perang. Entah bangkai entah masih aktif. Yang jelas aku harus segera meninggalkan flat. Kemudian aku jalan balik ke Bahnhof karena bus dan kendaraan lain ga boleh lewat.

Hari itu aku numpang tidur di rumah teman.

VI
The day I told my supervisor: It was in the middle of a conference in Halle.

The Controlled Release Society Germany Local Chapter
Martin-Luther-Universitรคt Halle-Wittenberg

Unknown building. Ada Edeka-nya. Di depan hotel, dalam perjalanan menuju bar.


VII
Flew back to Indonesia!
..waiting for the time to leave home to go home


FRA to RUH
sepi, duduk sendiri bisa rebahan

RUH to CGK
bayar lebih demi bisa selonjoran karena takut kaki bengkak


RUH to CGK


VIII
Home!

..padahal ik ga suka duren

IX
Awal Juli 2018
ditinggal Mas Suami konferensi ke Jepang dan dengan semena-menanya dipameri foto Sushi.

I missed you so much, Dear Sushi in Japan..

Dan di sebuah percakapan via telefon:

"Mas, kayaknya aku tau deh rasanya kalau besok mulai kontraksi"

13 Juli 2018
Diajak belanja Apip karena aku kok persiapannya nggak banget. Haha. Masih belum beli ini-itu karena memang aku mau biasa-biasa aja gara-gara lihat postingan di Instagram yang membandingkan persiapan ibu waktu persiapan kelahiran anak pertama vs anak selanjutnya. Yang wajar saja.

Di hari itu juga, aku tergerak untuk membereskan kamar.

Saturday, 14 Juli 2018
I found a spot of blood when I peed. But I stayed cool. I am always cool anyway. I texted my mother while she was in her trip back to Indonesia from Japan. I got her replied after she had landed in Cengkareng and wanted me to tell my obstetrician. I did not do it immediately because I was really chilled that day. The due date was two weeks away. But since I kept bleeding and I felt something strange in my stomach, then I told my obstetrician. He wanted me to go to the emergency unit. So I packed my bag and went.

Bukaan lima.

Dan aku masih chilled banget. Pede bakal disuruh pulang karena HPL masih lama.

Mas Suami masih sibuk urus kamar saat aku sibuk main HP di ruang observasi. Ibu langsung ke RS setelah mampir rumah sebentar. Disuruh ngaji sama Ibu. Dan aku mengantuk kemudian aku tidur di ruang observasi. Sebelumnya, aku bilang ke Mbak Perawat, "Sus, kalau ada yang mau lahiran, kasih tau saya ya. Saya tak pindah ke kamar." Haha, takut.

Akhirnya makin geje di ruang observasi jadi aku minta pindah kamar aja. Mbak Perawat bilang, "kalau kontraksi semakin sering atau ngerasa ada air yang merembes, segera lapor ya.."

dan aku masih santai menanggapi itu dan berjalan dengan santai ke kamar.

Di kamar juga geje. Haha.

Beberapa sanak saudara ada yang singgah, termasuk mertua yang saat itu baru ada di Jogja. Sampai malem juga tetep geje, kontraksi juga gitu-gitu aje. Bapak sudah mulai ngantuk dan diminta pulang sama ibu. Sesaat setelah bapak pulang, aku beneran ngerasa seperti ada balon pecah. Air keluar. Dan aku dipindah ke ruang persalinan.

Bukaan delapan.

Udah mulai heboh kontraksinya dan nggak boleh ngeden. To be honest, I had zero idea about giving birth. Ga tau kalau ngeden itu ada tekniknya. Tapi bodo amat.

Dokter datang. Bukaan lengkap (aku sebut bukaan lengkap karena aku ga tau yang disebut bukaan lengkap itu bukaan berapa, haha.. segitu enggaktaunya aku tentang proses persalinan). However,...


NGEDEN ITU GITU AMAT YA, BUIBUUUUUUUU.. 


Sabtu, 14 Juli 2018 23:30

"Welcome to the world, Nak.."

[no pic of her will be published]